Sore itu aku duduk terrmenung di bangku sekolah sambil menatap lapangan kosong dibaliknya. Suasana yang hening membuat semakin dalam lamunanku Tiba-tiba aku dikejutkan oleh segerombolan anak yang berlarian menuju tong sampah. Mereka berebut botol-botol bekas sambil mengejek satu sama lain. Aku terbangun dan menyapa " apa yang sedang kalian lakukan?" Dengan spontan mereka menjawab "cari uang kak". aku tersiam dan bingung. hatiku tersentak. spontan air mataku menetes melihat kenyataan yang ada.
Rasa /penasaranku semakin dalam, aku ingin lebih tahu lagi tentang kehidupan mereka. kucoba dekati salah satu dari mereka. Salah satu dari mereka ku dekati,dia yang duduk di teras depan kelasku. Doni namanya, dia anak yang tampan dan gemuk. dia berusia 9 tahun, sekolah di kelas 3 sekolah dasar.
"Apa adik melakukan pekerjaaj ini setiap hari?" tanyaku. dia rutin mencari barang bekas untuk menafkahi dirinya dan keluarganya. Bila dia tidak mencari uang dia akan dimarahi bahkan dipukul ayahnya. itulah jawaban yang keluar dari mulut anak manis itu. Badanya kotor dan bajunya kusutsungguh pemandangan yang menyedihkan. seharusnya anak-anak seusia mereka duduk manis sepulang sekolah atau bermain riang bersama teman sebayanya.
aku merasa heran terhadap orang tua, terutama ayahnya. masa kanak-kankanya hilang karena keegoisan seorang ayah yang tak menghiraukan kegahagiaan anaknya.ingin rasanya aku membantunya lepas dari bebanyang tak seharusnya dia tanggung. Namun apa dayaku,aku hanya seorang siswa SMAyang tak bisa berbuat apa-apa. aku hanya bisa menyadari betapa kejamnyapersaingan dunia yang tak memandang usia.
Terus kutatap wajahnya. Sorot matanya bagai matahari yang kehilangan cahaya. tak ada sinar yang dipancarkannya.redup padam dipenuhi beban.
Pertanyaan demi pertanyaan aku luapkan hingga aku lupa waktu. tanpa sadar waktu sudah terlampau senja. Dia harus pulang untuk menyetor hasil kerjanya pada pengepul. Begitu pula aku. pasti orang tuaku sudah khawatir dengan keterlambatanku.
No comments:
Post a Comment